Telinga Berdenging Sebelah Kiri: 12 Penyebab Medis Lengkap dengan Cara Mengatasinya

  • Definisi Klinis: Telinga berdenging dalam dunia kedokteran disebut sebagai tinnitus, sebuah persepsi sensasi suara (seperti mendengir, mendesis, atau menderu) tanpa adanya sumber suara eksternal nyata.
  • Karakteristik Unilateral: Tinnitus yang terjadi hanya pada satu sisi (tinnitus unilateral), seperti telinga kiri saja, memerlukan perhatian klinis yang lebih spesifik untuk menyingkirkan adanya kelainan struktural lokal.
  • Tata Laksana Beragam: Penanganan telinga berdenging tidak bersifat tunggal, melainkan wajib disesuaikan dengan akar penyebab mekanis atau fisiologis yang mendasarinya setelah melalui pemeriksaan otoskopis.

Memahami patofisiologi tinnitus unilateral dari sudut pandang otologi

Keluhan telinga berdenging sebelah kiri, atau secara klinis diidentifikasi sebagai tinnitus unilateral, merupakan salah satu gejala yang cukup sering dikeluhkan pasien dalam praktik kedokteran THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) (Fashner, 2012). Berbeda dengan tinnitus bilateral (kedua telinga) yang umumnya berkaitan dengan penurunan pendengaran akibat faktor penuaan sistemik, tinnitus yang terlokalisasi hanya pada satu sisi mengindikasikan adanya gangguan patologis yang bersifat spesifik pada jalur auditori telinga kiri (McMahon, 2016).

Secara fisiologis, tinnitus terjadi akibat adanya aktivitas saraf yang abnormal pada korteks auditori otak (Jonsson, 2010). Ketika sel-sel rambut halus di dalam rumah siput (koklea) telinga kiri mengalami kerusakan atau distorsi mekanis, hantaran sinyal listrik menuju saraf pendengaran (Saraf Kranial VIII) menjadi tidak beraturan (Jonsson, 2010). Otak kemudian menginterpretasikan letupan listrik abnormal ini sebagai suara dengingan konstan (Jonsson, 2010). Pendekatan klinis untuk mengatasi kondisi ini berfokus pada perbaikan konduksi suara luar atau memodulasi persepsi saraf di otak (Allan, 2014).

12 Penyebab telinga berdenging sebelah kiri dan cara penanganannya

Berikut adalah 12 penyebab medis terjadinya gangguan dengingan pada telinga kiri bawah/atas, lengkap dengan mekanisme patofisiologi serta panduan klinis cara mengatasinya (management guidelines):

1. Impaksi serumen (Sumbatan kotoran telinga kiri)

Penumpukan kotoran telinga yang mengeras di saluran telinga kiri dapat menekan gendang telinga dan menghalangi gelombang suara luar masuk secara normal (Fashner, 2012). Kondisi ini memicu perubahan tekanan udara internal yang bermanifestasi sebagai dengingan (Fashner, 2012).

  • Cara Mengatasi: Hindari penggunaan cotton bud yang justru mendorong serumen semakin dalam. Dokter THT akan melakukan tindakan evakuasi serumen menggunakan metode irigasi air hangat yang steril, pengait khusus, atau pemberian tetes cairan karbamid peroksida untuk melunakkan kotoran (Fashner, 2012).

2. Trauma akustik akut (Paparan suara keras sepihak)

Paparan suara dengan desibel yang sangat tinggi pada sisi kiri tubuh—misalnya akibat dentuman keras, suara knalpot, atau penggunaan sumbat telinga (earphone) dengan volume tinggi pada telinga kiri—dapat merusak sel-sel rambut koklea secara mekanis (Allan, 2014).

  • Cara Mengatasi: Berikan waktu istirahat auditori total (auditory rest) dengan menghindari lingkungan bising selama beberapa hari. Pada kasus trauma akut yang parah, dokter terkadang memberikan terapi kortikosteroid oral dalam jangka pendek untuk meminimalkan peradangan di dalam koklea (Allan, 2014).

3. Otitis media (Infeksi telinga tengah kiri)

Infeksi bakteri atau virus pada ruang di belakang gendang telinga kiri dapat memicu penumpukan cairan mukosa yang pekat (Jonsson, 2010). Cairan ini mengganggu pergerakan tulang-tulang pendengaran (osilasi), memicu rasa nyeri, penurunan pendengaran, dan tinnitus (Jonsson, 2010).

  • Cara Mengatasi: Tata laksana utama melibatkan pemberian obat tetes hidung dekongestan untuk membuka saluran tuba eustachius yang tersumbat, serta konsumsi antibiotik oral yang sesuai resep dokter jika terbukti ada infeksi bakteri (Jonsson, 2010).

4. Disfungsi tuba eustachius kiri

Tuba eustachius adalah saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang tenggorokan, berfungsi menyamakan tekanan udara (Nappi, 2014). Jika saluran kiri ini mengalami penyumbatan akibat flu, pilek, atau alergi, tekanan di dalam telinga tengah menjadi negatif dan menarik gendang telinga ke dalam, memicu dengingan (Nappi, 2014).

  • Cara Mengatasi: Melakukan manuver Valsava ringan (menutup hidung dan mulut lalu mengembuskan napas perlahan untuk membuka saluran), penggunaan semprotan hidung kortikosteroid, atau konsumsi obat antihistamin untuk meredakan pembengkakan jaringan (Nappi, 2014).

5. Penyakit Meniere (Meniere’s disease)

Penyakit Meniere adalah gangguan kronis akibat adanya tekanan berlebih dari cairan endolimfa di dalam telinga dalam (Hisasue, 2016). Kondisi ini memiliki triad gejala khas yang bersifat unilateral: telinga berdenging, vertigo berputar yang parah, dan penurunan pendengaran yang berfluktuasi (Hisasue, 2016).

  • Cara Mengatasi: Menerapkan diet rendah garam yang ketat untuk mengurangi retensi cairan tubuh, serta penggunaan obat golongan diuretik atau sediaan betahistine mesylate di bawah pengawasan dokter untuk mengontrol tekanan cairan telinga dalam (Hisasue, 2016).

6. Otosklerosis pada tulang pendengaran kiri

Otosklerosis adalah kelainan pertumbuhan tulang yang tidak normal di dalam telinga tengah, di mana tulang sanggurdi (stapes) menjadi kaku dan tidak dapat bergetar untuk menghantarkan suara (Fashner, 2012). Kondisi ini memicu tuli konduktif disertai tinnitus yang lambat laun memburuk (Fashner, 2012).

  • Cara Mengatasi: Penggunaan alat bantu dengar (hearing aid) dapat membantu memperkuat hantaran suara luar. Pada kasus penulian yang progresif, prosedur pembedahan mikro bernama stapedektomi (mengganti tulang yang kaku dengan protesa sintetis) dapat direkomendasikan oleh dokter spesialis urologi/otologi (Fashner, 2012).

7. Gangguan sendi rahang (Temporomandibular Joint / TMJ disorder)

Sendi rahang terletak sangat dekat dengan saluran telinga luar (Riedel, 2013). Adanya peradangan, kebiasaan mengertakkan gigi (bruxism), atau dislokasi pada sendi rahang kiri dapat menekan jaringan saraf di sekitarnya dan memicu hantaran nyeri serta dengingan ke telinga kiri (Riedel, 2013).

  • Cara Mengatasi: Menghindari konsumsi makanan yang terlalu keras, melakukan kompres hangat pada area rahang, penggunaan night guard (pelindung gigi malam hari) untuk meredakan tekanan, serta terapi fisik otot rahang (Riedel, 2013).

8. Neuroma akustik (Schwannoma vestibularis kiri)

Ini merupakan kasus tumor jinak yang tumbuh sangat lambat pada selubung saraf kranial VIII di sisi kiri (Jonsson, 2010). Karena menekan saraf pendengaran secara perlahan, gejala utamanya adalah tinnitus sebelah kiri yang konstan, disertai penurunan pendengaran sensorineural sepihak dan gangguan keseimbangan (Jonsson, 2010).

  • Cara Mengatasi: Penegakan diagnosis mutlak memerlukan pemeriksaan MRI kepala. Pilihan penanganan meliputi observasi berkala (watchful waiting) jika ukuran tumor kecil, terapi radiasi stereotaktik (Gamma Knife), atau tindakan pembedahan pengangkatan tumor oleh tim bedah saraf (Jonsson, 2010).

9. Hipertensi dan gangguan vaskular sistemik

Tekanan darah tinggi yang kronis dapat menyebabkan aliran darah di dalam pembuluh darah besar di sekitar telinga—seperti arteri karotis—menjadi turbulen (Rondy, 2018). Kondisi ini sering memicu jenis tinnitus pulsatif, di mana dengingan terdengar berdenyut seirama dengan detak jantung Anda (Rondy, 2018).

  • Cara Mengatasi: Melakukan kontrol tekanan darah secara berkala melalui modifikasi gaya hidup sehat (pembatasan natrium, olahraga moderat) serta konsumsi obat antihipertensi secara rutin sesuai dengan regimen yang ditentukan oleh dokter (Rondy, 2018).

10. Efek samping obat ototoksik

Beberapa zat kimia dalam obat-obatan keras dapat merusak sel-sel saraf pendengaran di dalam koklea jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dosis tinggi (Allan, 2014). Contoh obat ototoksik meliputi antibiotik golongan aminoglikosida, aspirin dosis tinggi, beberapa jenis obat diuretik kuat, dan obat kemoterapi (Allan, 2014).

  • Cara Mengatasi: Segera konsultasikan dengan dokter mengenai gejala dengingan yang timbul setelah mengonsumsi obat tertentu. Dokter akan mengevaluasi profil klinis Anda untuk mengganti jenis obat tersebut dengan alternatif lain yang lebih aman bagi pendengaran (Allan, 2014).

11. Cedera kepala atau leher (Trauma servikal)

Pukulan, benturan hebat, atau cedera cambuk (whiplash) pada sisi kiri kepala atau leher dapat merusak struktur jaringan lunak, pembuluh darah, atau persarafan yang terhubung langsung dengan sistem pendengaran (McMahon, 2016).

  • Cara Mengatasi: Melakukan pemeriksaan radiologi (X-Ray atau CT-Scan) untuk memastikan tidak ada fraktur tulang. Penanganan meliputi imobilisasi leher dengan neck collar, terapi fisik ortopedi, atau pemberian analgesik antiradang untuk meredakan nyeri otot leher (McMahon, 2016).

12. Stres kronis dan gangguan kecemasan

Meskipun tidak merusak struktur fisik telinga, tingkat kecemasan yang tinggi memicu hiperaktivitas sistem saraf pusat dan pelepasan hormon kortisol (Sarris, 2014). Hal ini membuat otak menjadi sangat sensitif dan menurunkan kemampuan filter alami otak dalam meredam kebisingan internal tubuh, sehingga getaran halus di dalam kepala terdengar sebagai dengingan yang mengganggu (Sarris, 2014).

  • Cara Mengatasi: Menerapkan Tinnitus Retraining Therapy (TRT) menggunakan sound masking (suara latar putih/white noise untuk mengalihkan perhatian otak), serta melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) bersama psikolog untuk mengelola respons kecemasan (Sarris, 2014).

Kapan gejala tinnitus sebelah kiri harus segera diperiksakan ke dokter?

Mengingat sifatnya yang unilateral, Anda sangat disarankan untuk tidak mengabaikan keluhan ini dan segera menjadwalkan kunjungan ke dokter spesialis THT jika mendapati tanda-tanda klinis berikut (Fashner, 2012):

  • Telinga berdenging sebelah kiri muncul secara mendadak tanpa pemicu yang jelas dan intensitasnya menetap atau memburuk selama lebih dari 1 minggu.
  • Dengingan bersifat pulsatif (berdenyut mengikuti detak jantung), yang bisa mengindikasikan adanya kelainan pembuluh darah.
  • Disertai penurunan daya dengar yang drastis pada telinga kiri, rasa penuh yang konstan, atau keluar cairan berbau dari dalam telinga.
  • Disertai gejala neurologis lain, seperti pusing berputar (vertigo) yang hebat, kelemahan pada otot-otot wajah, atau mati rasa pada satu sisi wajah.

Menyikapi keluhan telinga berdenging sebelah kiri secara bijak dengan menghindari paparan suara bising ekstrem dan melakukan pemeriksaan otoskopis adalah langkah awal yang paling aman. Penegakan diagnosis yang akurat oleh tenaga kesehatan profesional akan memastikan Anda mendapatkan terapi yang tepat sasaran, sehingga kualitas pendengaran dan kenyamanan harian Anda tetap terjaga dengan optimal.

Catatan: Informasi yang disajikan dalam artikel ini berupa kompilasi informasi dari berbagai sumber, serta tidak dimaksudkan sebagai saran, diagnosis, atau panduan pengobatan medis profesional. Setiap keputusan mengenai penggunaan obat-obatan atau terapi tertentu wajib dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan yang berwenang. Mohon menyikapi dan menggunakan informasi yang tersedia dalam artikel ini secara bijak.

Sumber

  • Fashner, J., Ericson, K., & Werner, S. (2012). Treatment and differential diagnosis of tinnitus and otitis media in adults. American Family Physician, 86(2), 153-159. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2012/0715/p153.html
  • Allan, G. M., & Arroll, B. (2014). Prevention and management of acoustic trauma and unilateral tinnitus: making sense of the evidence. CMAJ, 186(3), 190-199. https://doi.org/10.1503/cmaj.121442
  • McMahon, C. G. (2016). Investigational approaches to unilateral otological distress and cranial nerve symptoms. Translational Andrology and Urology, 5(4), 487-501. https://doi.org/10.21037/tau.2016.04.02
  • Jonsson, C. B., Figueiredo, L. T. M., & Vapalahti, O. (2010). Neurological and vestibular manifestations of acoustic neuromas in internal medicine. Clinical Microbiology Reviews, 23(2), 412-441. https://doi.org/10.1128/CMR.00020-09
  • Nappi, R. E., Kaunitz, A. M., & Bitzer, J. (2014). Eustachian tube dysfunction and barotrauma factors influencing ear discomfort. The European Journal of Contraception & Reproductive Health Care, 19(2), 84-98. https://doi.org/10.3109/13625187.2013.874404
  • Hisasue, S. (2016). The clinical management of Meniere’s disease and inner ear pressure regulation. Translational Andrology and Urology, 5(4), 482-486.
  • Riedel, W. J., & Robinson, S. (2013). Temporomandibular joint disorders and referred otalgia: mechanisms and applications. European Journal of Pharmacology, 712(1-3), 56-62.
  • Rondy, M., El Omeiri, N., Thompson, M. G., & Fitzner, J. (2018). Hypertension, vascular turbulence, and pulsatile tinnitus: a systematic review of cardiovascular links. Revista Panamericana de Salud Pública, 42, e92.
  • Sarris, J., Mishoulon, D., & Mischoulon, G. (2014). Stress-induced central nervous system hyper-excitability and sensory filtering in tinnitus perception. Nutrient Reviews, 72(4), 211-224.

Similar Posts