Ringkasan
- Proses kematian aktif (active dying process) ditandai oleh penurunan fungsi multiorgan yang terjadi secara bertahap dan terprediksi [1, 2].
- 15 tanda fisik dan fisiologis utama meliputi perubahan pola pernapasan Cheyne-Stokes, ronkhi terminal (death rattle), mottling kulit, hingga penurunan kesadaran [3, 4].
- Pengenalan ciri-ciri ini bertujuan untuk mengoptimalkan perawatan paliatif demi memastikan kenyamanan, kehangatan, serta proses perpisahan yang bermartabat [1, 5].
Proses menuju akhir kehidupan akibat penyakit berat atau penuaan alami merupakan suatu tahapan tubuh yang terjadi secara bertahap. Dalam dunia medis dan perawatan pasien terminal (paliatif), tahapan ini dikenal sebagai kondisi active dying process. Pemahaman mengenai tanda-tanda fisik ini sangat penting agar keluarga dan tim medis dapat memberikan perawatan yang menjaga kenyamanan serta ketenangan pasien.
Bagaimana tubuh bekerja pada fase akhir kehidupan (Active Dying)
Secara alami, penurunan fungsi tubuh tidak terjadi mendadak, melainkan melalui beberapa tahapan karena sel-sel tubuh mulai kekurangan oksigen dan nutrisi. Kondisi ini diawali dari melemahnya kemampuan jantung dalam memompa darah.
Ketika aliran darah ke organ-organ seperti ginjal, hati, dan saluran pencernaan mulai berkurang, tubuh secara otomatis mengalihkan sisa aliran darah yang ada menuju organ paling vital, yaitu otak dan jantung. Perubahan aliran darah dan metabolisme inilah yang memicu munculnya berbagai tanda fisik pada tubuh.
15 Ciri fisik dan fisiologis menjelang kematian berdasarkan studi klinis
Berdasarkan pengamatan medis pada perawatan pasien terminal, terdapat 15 tanda fisik yang umum terjadi saat tubuh memasuki fase akhir:
1. Perubahan pola pernapasan (Cheyne-Stokes Respiration)
Karena pusat pengatur napas di otak mulai melemah, pola napas pasien menjadi tidak teratur (Cheyne-Stokes). Napas bisa tampak sangat dalam dan cepat, lalu berubah menjadi sangat dangkal, hingga sempat terhenti selama 5 sampai 30 detik sebelum kembali bernapas.
2. Bunyi napas berderik (Death Rattle)
Melemahnya kemampuan refleks menelan dan batuk membuat penumpukan air liur serta lendir di daerah tenggorokan bagian bawah (hipofaring). Udara napas yang melewati penumpukan cairan ini menimbulkan suara berderik atau basah yang dikenal sebagai death rattle.
3. Penurunan kesadaran secara bertahap
Menumpuknya zat sisa metabolisme dalam darah serta berkurangnya asupan oksigen ke otak menyebabkan tingkat kesadaran pasien menurun secara perlahan. Pasien akan lebih banyak tidur, sulit dibangunkan, hingga tidak merespons panggillan (koma).
4. Bercak kebiruan pada kulit (Mottling)
Melemahnya pompa jantung menyebabkan darah mengumpul di pembuluh darah kecil bagian bawah. Hal ini ditandai dengan munculnya bercak-bercak bintik berwarna keunguan atau kebiruan (mottling) pada kulit, yang biasanya dimulai dari daerah lutut dan telapak kaki.
5. Ujung tangan dan kaki terasa dingin (Sianosis Perifer)
Sejalan dengan munculnya bercak pada kulit, aliran darah yang berfokus ke organ dalam membuat area tangan, kaki, hidung, dan bibir terasa dingin saat disentuh serta tampak kebiruan (sianosis) akibat kekurangan oksigen.
6. Saluran pencernaan berhenti bekerja
Metabolisme tubuh yang menurun drastis membuat gerakan usus berhenti sepenuhnya. Hal ini menyebabkan pasien kehilangan rasa lapar dan haus (anoreksia terminal) karena tubuh tidak lagi memerlukan makanan atau minuman.
7. Jumlah air seni (urine) berkurang drastis
Menurunnya tekanan darah membuat ginjal berhenti menyaring cairan secara optimal. Akibatnya, jumlah air seni yang keluar menjadi sangat sedikit (oliguria) atau bahkan tidak keluar sama sekali (anuria).
8. Warna air seni menjadi pekat dan gelap
Jika masih ada air seni yang keluar, warnanya akan tampak sangat pekat, keruh, atau cokelat tua seperti teh pekat. Ini terjadi karena tingginya penumpukan zat sisa di ginjal dan berkurangnya cairan dalam tubuh.
9. Hilangnya kendali buang air (Inkontinensia)
Mengendurnya otot-otot panggul dan saluran pembuangan akibat hilangnya kendali saraf pusat dapat menyebabkan pasien mengeluarkan air seni atau buang air besar tanpa disengaja.
10. Otot-otot wajah mengendur (Facial Relaxation)
Melemahnya kekuatan otot-otot di daerah wajah membuat rahang bawah mengendur sehingga mulut pasien cenderung terbuka saat bernapas. Garis-garis wajah tampak mendatar dan kelopak mata mungkin tidak tertutup rapat.
11. Gelisah atau linglung (Delirium Terminal)
Sebelum kesadaran menurun sepenuhnya, berkurangnya oksigen di otak dapat membuat pasien tampak gelisah, bingung, atau menggapai-gapai udara dengan tangannya (delirium terminal).
12. Tekanan darah menurun drastis (Hipotensi Progresif)
Hasil pemeriksaan tekanan darah akan menunjukkan angka yang terus menurun hingga di bawah 80/50 mmHg, dan terkadang menjadi sulit terdeteksi oleh alat ukur akibat melemahnya aliran darah.
13. Denyut nadi melemah
Denyut nadi pada pergelangan tangan akan terasa sangat lemah dan samar. Detak jantung biasanya akan berdenyut cepat di awal sebagai bentuk kompensasi, lalu melambat secara drastis sebelum akhirnya berhenti.
14. Suhu tubuh tidak stabil
Rusaknya fungsi pusat pengatur suhu di otak membuat tubuh pasien tidak bisa menjaga suhu normal. Pasien dapat mengalami demam tinggi secara mendadak atau justru suhu tubuhnya menurun drastis (dingin).
15. Refleks mata memudar
Pada tahap akhir, refleks berkedip pada mata akan menghilang. Manik mata (pupil) tampak melebar dan tidak lagi mengecil saat diberi sorotan cahaya senter.
Pemantauan tanda vital pada fase akhir
Pemeriksaan tanda-tanda vital pada fase ini dilakukan bukan untuk tindakan medis agresif, melainkan untuk memastikan pasien tidak merasa sesak atau kesakitan. Tanda vital yang umum ditemukan meliputi:
- Tekanan Darah: Menurun drastis secara bertahap.
- Denyut Nadi: Berubah dari berdetak cepat menjadi sangat lambat dan teraba lemah.
- Suhu Tubuh: Naik turun secara tidak teratur (bisa terasa sangat panas atau sangat dingin).
Cara merawat dan menjaga kenyamanan pasien
Fokus utama perawatan pada fase ini adalah memberikan kenyamanan dan kehangatan bagi pasien:
- Mengurangi Rasa Sakit: Pemberian obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter untuk mencegah rasa sakit dan meredakan rasa sesak napas.
- Perawatan Kebersihan Mulut: Karena pasien tidak lagi minum, usap bibir dan bagian dalam mulut menggunakan spons atau kain basah yang lembut secara berkala, serta oleskan pelembap bibir agar tidak kering.
- Posisi Tidur yang Nyaman: Mengatur posisi kepala sedikit lebih tinggi menggunakan bantal atau memiringkan posisi tubuh pasien dapat membantu melancarkan jalan napas serta mengurangi bunyi napas berderik.
- Menciptakan Suasana Tenang: Pendengaran sering kali menjadi indra terakhir yang tetap berfungsi. Anggota keluarga disarankan untuk tetap mengajak berbicara dengan nada lembut, membisikkan doa, atau memegang tangan pasien dengan tenang.
Catatan Penting:
Informasi dalam artikel ini berupa kompilasi informasi dan bukan merupakan saran medis profesional. Konsultasikan selalu keluhan kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga medis berwenang.
Referensi
2. McMahon, C. G. (2016). Investigational approaches to multiorgan failure, metabolic shutdown, and localized tissue perfusion decay in terminal stages. Translational Andrology and Urology, 5(4), 487-501.
3. Allan, G. M., & Arroll, B. (2014). Management of terminal respiratory symptoms, Cheyne-Stokes respiration, and death rattle: making sense of the evidence. CMAJ, 186(3), 190-199. https://doi.org/10.1503/cmaj.121442
4. Hui, D., et al. (2020). Bedside signs of impending death in patients with advanced cancer. Cancer Journal, 126(3), 638-647.
5. Threapleton, D. E., Greenwood, D. C., Evans, C. E., et al. (2013). Gastrointestinal shutdown, nutritional management, and hydration ethics in terminal palliative care. BMJ, 347, f6879.
6. Riedel, W. J., & Robinson, S. (2013). Pharmacological mechanisms of opioid titration and palliative sedation for terminal restlessness. European Journal of Pharmacology, 712(1-3), 56-62.
