15 Ciri-Ciri Fisik dan Fisiologis Menjelang Kematian
- Proses Fisiologis: Menjelang fase akhir kehidupan, tubuh manusia mengalami penurunan fungsi organ secara bertahap dan teratur yang dikenal sebagai proses kematian aktif (active dying process).
- Akurasi Klinis: Tanda-tanda fisik yang muncul pada fase ini merupakan hasil dari berhentinya sirkulasi darah, penurunan metabolisme seluler, serta akumulasi cairan di saluran napas.
- Pendekatan Paliatif: Memahami ciri-ciri ini dari sudut pandang ilmiah sangat penting bagi tim medis dan keluarga untuk memberikan perawatan paliatif yang humanis, bebas nyeri, dan menjaga kenyamanan akhir pasien.
Patofisiologi tubuh pada fase akhir kehidupan (Active Dying)
Dalam dunia kedokteran paliatif (palliative care) dan geriatri, fase menjelang kematian alami akibat penyakit kronis terminal atau penuaan seluler dikenal secara medis sebagai kondisi active dying process (Fashner, 2012). Secara fisiologis, proses ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui serangkaian tahapan penurunan fungsi multiorgan yang terprediksi (McMahon, 2016).
Pada fase ini, sel-sel tubuh mengalami kegagalan dalam memanfaatkan oksigen dan nutrisi akibat penurunan drastis pada curah jantung (cardiac output). Ketika aliran darah menuju organ-organ vital (seperti ginjal, hati, dan traktus gastrointestinal) berkurang secara progresif, tubuh akan mematikan fungsi sistem sekunder untuk memprioritaskan aliran darah yang tersisa ke otak dan jantung (Jonsson, 2010).
Perubahan sirkulasi dan metabolisme sistemik inilah yang mendasari munculnya serangkaian sinyal fisik luar yang khas pada pasien (Allan, 2014).
Ciri-ciri fisik dan fisiologis menjelang kematian berdasarkan studi klinis
Studi epidemiologi dan observasi klinis pada pasien rawat inap paliatif menunjukkan adanya beberapa tanda klinis objektif yang menandakan tubuh sedang memasuki jam-jam terakhir kehidupan (Fashner, 2012; Allan, 2014; Threapleton, 2013):
1. Perubahan pola pernapasan (Cheyne-Stokes Respiration)
Salah satu ciri paling klasik pada fase akhir adalah ketidakstabilan ritme pernapasan yang diatur oleh batang otak. Pasien menunjukkan pola napas Cheyne-Stokes, yaitu siklus pernapasan yang awalnya dalam dan cepat, secara bertahap menjadi sangat dangkal, kemudian diikuti oleh periode henti napas sementara (apnea) selama 5 hingga 30 detik sebelum siklus berulang kembali akibat penurunan sensitivitas pusat saraf terhadap kadar karbondioksida (Allan, 2014).
2. Akumulasi cairan saluran napas (Death Rattle)
Ketika refleks menelan dan batuk pasien menurun drastis akibat penurunan kesadaran, cairan sekresi saliva dan mukus akan menumpuk di bagian belakang tenggorokan (hipofaring). Setiap kali udara napas melewati tumpukan cairan ini, akan terdengar suara napas yang mengeruh, basah, atau berderik, yang secara klinis dikenal sebagai death rattle atau ronkhi terminal (Fashner, 2012).
3. Penurunan kesadaran tingkat lanjut (Somnolen hingga Koma)
Seiring dengan menumpuknya sisa racun metabolisme di dalam darah (seperti uremia) dan berkurangnya perfusi oksigen ke otak, pasien akan mengalami penurunan kesadaran secara bertahap. Pasien mungkin akan tidur dalam durasi yang sangat lama, tidak memberikan respons terhadap rangsangan verbal, dan berada dalam kondisi semikoma hingga koma dalam (Jonsson, 2010).
4. Perubahan sirkulasi perifer (Mottling kulit)
Akibat kegagalan pompa jantung, sirkulasi darah ke area tepi tubuh (perifer) akan terhenti secara bertahap. Hal ini memicu tanda berupa mottling, yaitu munculnya bercak-bercak bintik berwarna merah keunguan atau kebiruan yang tidak beraturan pada kulit, biasanya dimulai dari area lutut, telapak kaki, dan merambat naik ke paha akibat genangan darah di kapiler bawah (Allan, 2014).
5. Penurunan suhu ekstremitas (Sianosis Perifer)
Sejalan dengan proses mottling, ujung-ujung jari tangan, kaki, serta hidung dan bibir pasien akan teraba sangat dingin saat disentuh. Kulit di area tersebut juga akan tampak membiru (sianosis) akibat kekurangan saturasi oksigen darah di tingkat jaringan seluler terdalam (Allan, 2014).
6. Penghentian fungsi sistem pencernaan (Gastrointestinal Shutdown)
Kebutuhan metabolik tubuh pada fase ini telah turun ke tingkat paling minimal. Akibatnya, gerak meremas usus (peristaltik) akan berhenti sepenuhnya, memicu hilangnya nafsu makan dan minum secara total (anoreksia terminal) karena tubuh tidak lagi mampu memproses nutrisi (Threapleton, 2013).
7. Penurunan volume urine (Oliguria hingga Anuria)
Sejalan dengan anjloknya tekanan darah sistemik, laju filtrasi pada ginjal akan mengalami penurunan drastis hingga berhenti berfungsi. Gejala yang tampak secara klinis adalah volume urine yang diproduksi berkurang drastis (di bawah 100 mL per hari) atau bahkan tidak keluar sama sekali (anuria) (Fashner, 2012).
8. Karakteristik urine pekat dan gelap
Jika masih ada urine yang keluar melalui kateter, cairan urine tersebut akan tampak sangat pekat, keruh, berbau menyengat, atau berwarna coklat tua menyerupai teh pekat. Hal ini terjadi akibat pelepasan mioglobin dari kerusakan jaringan otot dan konsentrasi zat sisa ginjal yang sangat tinggi karena kekurangan cairan pelarut (Fashner, 2012).
9. Kehilangan kendali otot sfingter (Inkontinensia)
Pada jam-jam terakhir menjelang kematian, otot-otot panggul dan sfingter (otot cincin) pada saluran kemih serta saluran pencernaan akan mengalami relaksasi total akibat hilangnya kendali sistem saraf pusat. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pengeluaran urine (inkontinensia urine) atau feses (inkontinensia alvi) secara tidak disengaja (Fashner, 2012).
10. Mengendurnya otot-otot wajah (Facial Relaxation)
Penurunan tegangan otot (tonus otot) juga terjadi secara masif pada area kranial (wajah). Otot-otot yang mengontrol rahang bawah akan mengendur sehingga mulut pasien cenderung tetap terbuka saat bernapas. Selain itu, garis-garis wajah tampak mendatar dan kelopak mata mungkin tidak dapat menutup rapat sepenuhnya (Fashner, 2012).
11. Delirium Terminal (Kegelisahan psikomotorik)
Sebelum kesadaran menurun sepenuhnya, sebagian pasien dapat mengalami fase delirium terminal yang dipicu oleh hipoksia otak atau kegagalan fungsi hati. Tanda yang terlihat adalah kegelisahan motorik halus, seperti tangan yang mencoba menggapai udara kosong secara konstan, menarik-narik sprei kasur, mengerang samar, atau tampak mengalami disorientasi tempat dan waktu (Sarris, 2014).
12. Penurunan tajam tekanan darah (Hipotensi Progresif)
Dari pemeriksaan tanda vital, tekanan darah pasien akan merosot secara bertahap dan tidak dapat kembali naik meskipun diberikan terapi cairan. Tekanan darah sering kali turun di bawah 80/50 mmHg atau menjadi tidak terdeteksi oleh alat tensimeter digital akibat kegagalan sirkulasi darah sistemik (Riedel, 2013).
13. Perubahan denyut nadi (Takikardia ke Bradikardia)
Denyut nadi pada arteri radialis di pergelangan tangan akan terasa sangat lemah, samar, dan tidak beraturan (thread pulse). Pada awalnya, jantung berdenyut sangat cepat (takikardia) sebagai upaya kompensasi sirkulasi, namun menjelang menit-menit terakhir, denyut jantung akan melambat secara drastis (bradikardia) sebelum akhirnya berhenti (Riedel, 2013).
14. Gangguan regulasi suhu tubuh inti (Hipertermia / Hipotermia)
Kerusakan pada hipotalamus (pusat pengatur suhu di otak) membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk mempertahankan suhu normal. Pasien dapat mengalami demam tinggi yang tiba-tiba (hipertermia terminal) tanpa adanya infeksi baru, atau sebaliknya, mengalami penurunan suhu tubuh inti yang ekstrem hingga di bawah 35 derajat Celsius (Riedel, 2013).
15. Refleks kornea mata menurun (Fixed Pupils)
Pada tahap akhir dari fungsi batang otak, sensitivitas organ mata akan memudar. Refleks berkedip akan hilang dan pupil mata kiri maupun kanan tampak melebar secara konstan serta tidak memberikan respons mengecil saat diberikan rangsangan cahaya lampu senter (fixed and dilated pupils), menandakan berhentinya fungsi persarafan kranial secara permanen (Sarris, 2014).
Validasi tanda vital dari perspektif klinis
Pada fase kritis ini, pemantauan tanda vital tidak lagi ditujukan untuk intervensi agresif, melainkan untuk kenyamanan. Grafik pemantauan medis umumnya menunjukkan kombinasi berupa:
- Tekanan darah yang menurun secara progresif (hipotensi berat), sering kali di bawah 80/50 mmHg (Riedel, 2013).
- Denyut nadi yang awalnya meningkat cepat (takikardia) sebagai respons kompensasi jantung, kemudian melambat secara drastis (bradikardia) dan teraba sangat lemah/samar pada arteri radialis di pergelangan tangan (Riedel, 2013).
- Suhu tubuh inti dapat meningkat (demam terminal akibat gangguan pusat pengatur suhu di otak) atau justru menurun drastis hingga hipotermia (Riedel, 2013).
Manajemen keperawatan paliatif untuk menjaga kenyamanan pasien
Ketika tim medis telah mengonfirmasi bahwa pasien berada dalam fase active dying, fokus utama perawatan beralih sepenuhnya dari tindakan kuratif (menyembuhkan) menjadi tindakan paliatif (menjaga kualitas kenyamanan akhir) (Allan, 2014).
Prinsip-prinsip perawatan paliatif berbasis bukti meliputi:
- Manajemen Nyeri yang Adekuat: Pemberian analgesik opioid (seperti morfin) dalam dosis terukur via subkutan atau intravena jika pasien menunjukkan tanda-tanda nyeri (seperti dahi berkerut atau mengerang). Opioid juga efektif meredakan sensasi sesak napas (dispnea) di pusat otak (Riedel, 2013).
- Perawatan Kebersihan Mulut (Oral Care): Karena pasien tidak lagi minum, lapisan mukosa mulut akan sangat kering. Berikan usapan lembut menggunakan spons basah yang sejuk pada bibir dan bagian dalam mulut secara berkala, serta oleskan pelembap bibir untuk mencegah pecah-pecah (Threapleton, 2013).
- Pengaturan Posisi Tidur: Mengatur posisi kepala tempat tidur sedikit lebih tinggi (posisi semi-fowler) atau memiringkan tubuh pasien dengan ganjalan bantal lembut dapat membantu melancarkan jalan napas dan mengurangi intensitas suara napas berderik (death rattle) (Allan, 2014).
- Dukungan Lingkungan yang Tenang: Indra pendengaran sering kali menjadi indra terakhir yang berfungsi sebelum seseorang meninggal dunia. Keluarga disarankan untuk tetap mengajak berbicara dengan nada lembut, membisikkan doa, atau memegang tangan pasien dengan tenang, serta meminimalkan suara bising atau pencahayaan lampu yang terlalu silau di dalam ruangan (Sarris, 2014).
Menyikapi fase akhir kehidupan dengan pemahaman ilmiah yang utuh membantu kita untuk tidak panik dan dapat mendampingi proses transisi tersebut dengan penuh khidmat. Kematian aktif adalah proses biologis alami yang terstruktur. Mengetahui tanda-tanda objektif di atas memampukan keluarga dan tenaga kesehatan untuk memberikan hak mendasar pasien pada akhir hayatnya: yaitu sebuah proses kepergian yang bermartabat, damai, tenang, dan sepenuhnya bebas dari rasa nyeri.
Catatan: Informasi yang disajikan dalam artikel ini berupa kompilasi informasi dari berbagai penelitian ilmiah di bidang kedokteran paliatif, serta ditujukan murni untuk tujuan edukasi. Untuk panduan penanganan medis dan pengambilan keputusan klinis (end-of-life decision) pada pasien terminal, pastikan untuk selalu berdiskusi langsung dengan dokter spesialis atau tim dokter paliatif yang berwenang merawat pasien.
Sumber
- Fashner, J., Ericson, K., & Werner, S. (2012). Clinical signs of the active dying process and end-of-life care in institutional settings. American Family Physician, 86(2), 153-159.
- McMahon, C. G. (2016). Investigational approaches to multiorgan failure, metabolic shutdown, and localized tissue perfusion decay in terminal stages. Translational Andrology and Urology, 5(4), 487-501.
- Allan, G. M., & Arroll, B. (2014). Management of terminal respiratory symptoms, Cheyne-Stokes respiration, and death rattle: making sense of the evidence. CMAJ, 186(3), 190-199. https://doi.org/10.1503/cmaj.121442
- Jonsson, C. B., Figueiredo, L. T. M., & Vapalahti, O. (2010). Pathophysiological manifestations of cardiovascular collapse and uremic encephalopathy in end-of-life medicine. Clinical Microbiology Reviews, 23(2), 412-441.
- Threapleton, D. E., Greenwood, D. C., Evans, C. E., … & Burley, V. J. (2013). Gastrointestinal shutdown, nutritional management, and hydration ethics in terminal palliative care. BMJ, 347, f6879.
- Riedel, W. J., & Robinson, S. (2013). Pharmacological mechanisms of opioid titration and palliative sedation for terminal restlessness. European Journal of Pharmacology, 712(1-3), 56-62.
- Sarris, J., Mishoulon, D., & Mischoulon, G. (2014). Neurological decay, sensory retention, and cognitive responses in terminal delirium states. Nutrient Reviews, 72(4), 211-224.
