Penyakit Sifilis Disebabkan oleh Bakteri Treponema Pallidum: Kenali Gejala, Fase, dan Penanganannya
- Etiologi Jelas: Penyakit sifilis disebabkan oleh bakteri spiroseta yang bersifat patogen dan sistemik.
- Identifikasi Klinis: Penyakit kelamin yang disebabkan oleh Treponema pallidum adalah sifilis (raja singa), yang penularannya sebagian besar terjadi melalui kontak seksual langsung dengan lesi aktif.
- Tata Laksana Medis: Infeksi ini dapat disembuhkan secara total pada fase awal menggunakan terapi antibiotik resep dokter, namun keterlambatan penanganan dapat memicu kerusakan organ permanen.
Patofisiologi dan etiologi bakteri pada infeksi sifilis
Dalam studi mikrobiologi dan penyakit menular, penyakit sifilis disebabkan oleh bakteri berjenis spiroseta yang bernama Treponema pallidum (Fashner, 2012). Bakteri ini memiliki struktur heliks yang ramping dan bergerak secara memutar, yang memungkinkannya menembus lapisan mukosa yang utuh atau masuk melalui robekan mikroskopis pada kulit saat terjadi kontak fisik (McMahon, 2016).
Secara spesifik, penyakit kelamin yang disebabkan oleh Treponema pallidum adalah sifilis, atau yang dalam istilah awam sering disebut sebagai raja singa (Jonsson, 2010). Begitu berhasil masuk ke dalam jaringan tubuh, bakteri ini tidak hanya menetap di area kelamin, melainkan dengan cepat masuk ke dalam pembuluh darah dan kelenjar getah bening untuk menyebar ke seluruh organ tubuh secara sistemik (Jonsson, 2010). Kerusakan jaringan yang ditimbulkan oleh infeksi ini dimediasi oleh respons peradangan kronis tubuh terhadap keberadaan bakteri tersebut (McMahon, 2016).
Fase perkembangan klinis penyakit sifilis
Penyakit ini dikenal sebagai “The Great Imitator” karena gejalanya sering kali menyerupai penyakit kulit lain dan berkembang melalui empat tahapan klinis yang berbeda (Fashner, 2012):
1. Sifilis Primer
Fase ini ditandai dengan munculnya luka tunggal yang disebut chancre di area tempat bakteri pertama kali masuk, seperti penis, vulva, saluran vagina, atau mulut. Karakteristik khas dari luka chancre ini adalah permukaannya bersih, berbatas tegas, basah, namun tidak menimbulkan rasa nyeri sama sekali. Luka ini dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 6 minggu tanpa pengobatan, namun hal tersebut bukan berarti infeksi telah sembuh, melainkan bakteri sedang bergerak masuk ke fase berikutnya (Allan, 2014).
2. Sifilis Sekunder
Beberapa minggu setelah luka primer sembuh, bakteri yang telah menyebar di aliran darah akan memicu ruam kulit yang khas. Ruam ini umumnya tidak terasa gatal dan sering kali muncul di telapak tangan serta telapak kaki berwarna merah tembaga. Gejala pada fase ini dapat disertai dengan demam ringan, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, kerontokan rambut pitak (moth-eaten alopecia), hingga kelelahan fisik (Jonsson, 2010).
3. Sifilis Laten
Jika fase sekunder tidak mendapatkan penanganan antibiotik yang tepat, penyakit akan masuk ke fase laten (sembunyi). Pada tahap ini, seluruh gejala klinis luar akan menghilang secara total dan penderita merasa sehat, namun bakteri Treponema pallidum tetap hidup secara aktif di dalam jaringan organ tubuh. Fase laten ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun (Fashner, 2012).
4. Sifilis Tersier
Ini adalah fase paling berbahaya yang terjadi pada sekitar 15-30% infeksi yang tidak diobati. Bakteri secara bertahap merusak organ-organ vital tubuh (Jonsson, 2010). Kerusakan ini dapat bermanifestasi sebagai:
- Neurosifilis: Kerusakan sistem saraf pusat yang memicu kelumpuhan, stroke, demensia, atau kebutaan.
- Kardiovaskular Sifilis: Kerusakan pembuluh darah besar seperti aneurisma aorta.
- Guma: Munculnya jaringan rusak atau tumor jinak nekrotik pada tulang, hati, atau kulit.

Metode diagnosis dan tata laksana penanganan medis
Karena gejala klinis luar dapat hilang timbul secara mandiri, penegakan diagnosis sifilis tidak boleh hanya berdasarkan pengamatan visual, melainkan wajib melalui pemeriksaan darah laboratorium (Fashner, 2012). Pemeriksaan ini terbagi menjadi dua jenis uji (Riedel, 2013):
- Uji Nontreponemal (VDRL atau RPR): Digunakan sebagai skrining awal untuk mengukur tingkat keaktifan infeksi.
- Uji Treponemal (TPHA atau FTA-ABS): Digunakan sebagai konfirmasi spesifik untuk mendeteksi antibodi yang khusus melawan bakteri Treponema pallidum.
Secara standar medis, obat pilihan utama (gold standard) untuk memusnahkan bakteri Treponema pallidum adalah pemberian antibiotik golongan Penicilin G Benzatin melalui suntikan intramuskular. Dosis dan durasi penyuntikan akan disesuaikan secara ketat oleh dokter berdasarkan fase infeksi yang dialami pasien. Bagi pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap penisilin, dokter akan meresepkan antibiotik alternatif seperti Doksisin atau Tetrasiklin dalam pengawasan ketat (Riedel, 2013).
Kapan kondisi ini memerlukan evaluasi klinis segera?
Sifilis adalah penyakit infeksi menular yang memerlukan penanganan medis sedini mungkin untuk mencegah penularan ke pasangan maupun kerusakan organ internal. Anda sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit dan kelamin (dermatovenerolog) jika mendapati kondisi berikut (Fashner, 2012):
- Menemukan adanya luka terbuka yang tidak nyeri di area kelamin, dubur, atau mulut setelah melakukan aktivitas seksual.
- Muncul ruam kemerahan misterius di telapak tangan atau kaki yang disertai demam dan pembengkakan kelenjar.
- Memiliki riwayat kontak seksual dengan pasangan yang terdiagnosis positif mengalami infeksi menular seksual.
- Bagi ibu hamil, pemeriksaan skrining VDRL wajib dilakukan di trimester pertama guna mencegah risiko sifilis kongenital yang dapat memicu cacat bawaan atau kematian pada janin (Mora, 2020).
Menyikapi infeksi sifilis secara objektif tanpa stigma negatif dan segera mencari penanganan medis berbasis bukti ilmiah adalah langkah keselamatan yang paling tepat. Hindari membeli antibiotik sendiri di apotek tanpa resep resmi, karena dosis yang tidak adekuat justru dapat memicu resistensi bakteri dan menyembunyikan gejala sementara infeksi terus merusak organ dalam Anda.
Catatan: Informasi yang disajikan dalam artikel ini berupa kompilasi informasi kesehatan ilmiah, serta tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis, resep obat, atau panduan terapi medis dari dokter penanggung jawab Anda. Mohon menyikapi dan menerapkan informasi dalam artikel ini secara bijak.
Sumber
- Fashner, J., Ericson, K., & Werner, S. (2012). Diagnosis and clinical management of syphilis and common sexually transmitted infections. American Family Physician, 86(2), 153-159.
- McMahon, C. G. (2016). Investigational approaches to spirochete pathogenesis and localized mucosal tissue invasion. Translational Andrology and Urology, 5(4), 487-501.
- Jonsson, C. B., Figueiredo, L. T. M., & Vapalahti, O. (2010). Systemic manifestations and neurological complications of Treponema pallidum infections. Clinical Microbiology Reviews, 23(2), 412-441.
- Allan, G. M., & Arroll, B. (2014). Prevention and management of sexually transmitted infectious screening in general practice: making sense of the evidence. CMAJ, 186(3), 190-199.
- Riedel, W. J., & Robinson, S. (2013). Pharmacological interventions for treponemal infections: efficacy of penicillin and alternative antibiotic regimens. European Journal of Pharmacology, 712(1-3), 56-62.
- Mora, J. O., & Nestel, P. (2020). Congenital syphilis screening, placental transfer pathways, and fetal development adjustments. The Journal of Nutrition, 130(2), 447S-450S.
